Hadis riwayat Abu Musa ra.:
Dari Nabi s.a.w., beliau bersabda: “Setiap muslim wajib bersedekah. Ditanyakan: Apa pendapatmu jika ia tidak mempunyai sesuatu (untuk bersedekah)? Rasulullah saw. bersabda: Dia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia dapat memberi manfaat dirinya dan bersedekah. Ditanyakan pula: Apa pendapatmu, jika ia tidak mampu? Rasulullah saw. bersabda: Dia dapat membantu orang dalam keperluan mendesak. Ditanyakan lagi: Apa pendapatmu, bila tidak mampu? Rasulullah s.a.w. bersabda: Dia dapat memerintahkan kebaikan. Masih ditanyakan lagi: Apa pendapatmu jika ia tidak melakukannya? Rasulullah s.a.w. bersabda: Dia dapat menahan diri dari berbuat kejahatan, karena itu adalah sedekah” (Shahih Muslim no 1676)
Hadis yang mulia di atas membahagikan manusia kepada beberapa darjat sesuai dengan usaha dan kedudukan mereka.
Seorang Muslim yang kuat, dengan kekuatan yang ada dapatlah dia menambahkan hasil pengeluaran dalam apa bentuk sekalipun dan memberikan saham dalam pembangunannya yang umum serta saling bahu membahu dalam membuat kebajikan dan ketakwaan, bukannya berbuat dosa dan permusuhan.
Perbuatan tersebut, di samping bermanfaat untuk dirinya, juga bererti telah menunaikan kewajipannya terhadap masyarakat, sepertimana yang dikemukakan hadis: “Setiap Muslim wajib bersedekah!” Barangsiapa merasa tidak mampu melakukan pekerjaan tersebut, maka jangan sampai dia merasa tidak mampu pula untuk menolong orang lain.
Jika dia sendiri tidak dapat mengasihi, maka hendaklah membantu orang-orang yang mengasihi.
JIka dia tidak dapat memberikan manfaat dengan kekuatannya, maka dia perlu membantu orang-orang yang memberikan manfaat dan menolong orang-orang yang berjuang.
Itulah yang dimaksudkan oleh sabda Rasulullah s.a.w. di atas: Dia perlu menolong orang yang memerlukan!”
Andainya seorang Muslim langsung tidak mempunyai apa-apa, maka dalam hal ini, dia perlu mengurus dirinya sendiri, iaitu mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan jahat serta berpegang teguh dengan cabang-cabang iman lainnya. Mudah-mudahan dengan melakukan semua ini, dia akan selamat, sebagaimana yang ditunjukkan dipenghujung hadis: Maka ia perlu beramal dengan kebaikan dan menahan diri daripada kejahatan, kerana sesungguhnya – perbuatan ini merupakan sedekah baginya!
Inilah tingkah laku yang baik, sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. Tampak ciri-ciri seorang Mukmin, seolah-olah terpancar di dahinya sinar kemuliaan di dalam setiap gerak gerinya.
Sesungguhnya sejahat-jahat manusia di sisi Allah ialah orang yang tidak boleh diharapkan kebaikannya dan tidak aman daripada kejahatannya.
Seorang Mukmin tidak mungkin menjadi demikian. Hubungan dengan Allah menjadikannya seorang itu dapat diharapkan kebaikannya dan tidak dibimbangi kejahatannya. Dan misinya di dalam kehidupan ini menjadikannya anggota masyarakat yang mewujudkan kemaslahatan (kebaikan) umum dan bukan yang merosak.
Rasulullah s.a.w. telah mengumpamakan seorang Mukmin seperti pohon kurma; semua bahagian pohon bermanfaat pada manusia. Mungkin inilah tafsir kepada firman Allah yang berbunyi;
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Ibrahim: 24-25)
Ayat di atas menjelaskan ciri-ciri seorang Mukmin.
Hatinya ibarat mata air yang memancarkan kebaikan dan kebajikan, dan kehidupannya ibara mata rantai yang sambung menyambung di antara perbuatan baik dan teladan yang mulia.
Masyarakat Mukmin hendaklah menjadi gambaran hasil daripada pendidikan Islam yang menganjurkan kebaikan dan menjauhi keburukan. Hinggakan seluruh penduduk dunia akan kagum dan gembira terhadap masyarakat Mukmin.
Dr Muhammad Al-Ghazali, Berubah kepada kehidupan baru, m/s 231
(baca mukaddimah buku ini di sini)
Dikirim oleh Abu Hassan